Sebalik tubuhnya
yang menyepi,
Rasa begitu asing
bagiku
Kurenungnya
sambil dia berjalan
Terus bergenang
airmataku
Lantasku menangis
sayu
Kubencikan diriku
kerna hingga kini ku tak pernah tahu
Kerna didepanku
dia berlagak tenang dan cuma tersenyum
Kerna dia sering
berpura tabah didepanku
Tak pernah pun
terfikir olehku
Kukira ku takkan
pernah tahu
Ku tak sedar akan
kesepian di sebalik tubuhnya
Kala itu aku
terlalu muda dan tak tahu
Tak pernah
kudekatimu sedangkan kau lebih sunyi berbanding sesiapapun
Kini ku tahu dan
moga tak terlewat bagiku
Buat selamanya
kau ku sayangi
Ayahku~
Setelah kurenunginya
begitu buat sekian lama
Lantas ku berlari
padanya dan terus memeluknya
Ku ingin menangis
semahunya
Ingin menangis
dalam dakapannya itu
Kerna begitu
sayunya rasa syukurku terhadapmu
Kala itu aku
terlalu muda dan tak tahu
Tak pernah
kudekatimu sedangkan kau lebih sunyi berbanding sesiapapun
Kini ku tahu dan
moga tak terlewat bagiku
Buat selamanya
kau ku sayangi
Ayahku~
Kau berpura lega
dan pulih sepenuhnya dengan sekali keluh
Terlihat olehku
airmatamu yang tak tergugur
Tidak kau tangisi
hati yang penuh luka dan peritnya parut
Mengapa ku asyik
menyalahkanmu sedangkan semua itu dilakukan olehku?
Dan apabila
matamu memperlihatkan keletihanmu
Namun kau
sembunyikannya bagaikan pendusta
Kini akan kudakap
kamu, malah kau boleh saja bersandar padaku
Dan apabila matamu memperlihatkan keletihanmu
Namun kau sembunyikannya bagaikan pendusta
Buat selamanya
kaulah syurga tertinggi bagiku
Tangan yang kian
kasar
Mata yang makin
kedut
Bahkan sebalik
tubuhnya yang menyepi
Begitu asing
bagiku
Mungkin kerna itu
aku begitu
Mungkin kerna itu
kau kuluka
Bahkan bayangan
disebalik tubuhnya bak beban yang ditinggalkan olehku
Meski buatmu
tiada apa yang dilakukan
Meski buatmu satu
apa pun tidak kuberi
Kata yang begitu
inginku lafazkan
Buat selamanya
kau kusayangi
Ayahku~